Editorial Cartoon

Editorial Cartoon

Pemerintah Daerah Kab. Karawang, Jawa Barat

Pemerintah Daerah Kab. Karawang, Jawa Barat
Kantor Bupati Karawang

Saturday, January 31, 2026

Nama Besar PT Pindo Deli Karawang Dicatut Penipu Lowongan Kerja


Banyak penipu lowongan kerja di kota industri Karawang yang dikenal sebagai jantung kawasan industri terbesar di Indonesia. Ribuan pabrik berdiri, menyerap tenaga kerja dari berbagai daerah. Namun di balik gemerlap peluang itu, tumbuh pula praktik gelap: Kejahatan penipuan berkedok lowongan kerja.

Karawang Post Harapan para pencari kerja sering dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan pribadi. Tidak tanggung-tanggung, nama besar PT. Pindo Deli pun dicatut.

Modus lainnya pun beragam. Ada yang mengaku sebagai calo perusahaan, menawarkan “jalur khusus” dengan syarat membayar sejumlah uang. Ada pula yang membuat iklan lowongan palsu di media sosial, meminta biaya administrasi, tes kesehatan, hingga uang seragam. Setelah uang ditransfer, pelaku menghilang tanpa jejak, sementara korban hanya menyisakan kekecewaan dan utang.

Fenomena ini sangat menyakitkan karena menyasar kelompok rentan: lulusan baru, buruh yang terkena PHK, dan warga desa yang bermimpi memperbaiki nasib di kota industri. Mereka datang ke Karawang dengan bekal terbatas, tetapi harus berhadapan dengan praktik kejam yang merampas harapan sebelum sempat bekerja.

Pemerintah daerah, dalam hal ini Disnakertrans. Perusahaan, dan aparat penegak hukum tidak boleh tinggal diam. Sosialisasi mekanisme rekrutmen resmi harus diperkuat, layanan pengaduan dipermudah, dan penindakan terhadap calo ilegal dilakukan tegas.

Perusahaan juga perlu membuka informasi penerimaan secara transparan agar ruang bagi penipu semakin sempit.

Bagi masyarakat, kewaspadaan menjadi benteng utama. Lowongan kerja resmi tidak pernah memungut biaya. Setiap permintaan uang patut dicurigai. Karawang seharusnya menjadi kota harapan bagi pekerja, bukan ladang subur bagi penipu yang menangguk untung dari air mata para pencari nafkah.

Seperti nasib sial yang dialami Iin, berharap mendapat pekerjaan justru berubah menjadi mimpi buruk, warga Desa Kertaraharja, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang ini mengaku menjadi korban dugaan penipuan lowongan kerja yang mengatasnamakan PT Pindo Deli 2 Karawang, dengan modus berlapis dan tekanan psikologis yang membuat korban terus-menerus mengirim uang.

Peristiwa bermula saat Iin menemukan informasi lowongan kerja melalui media sosial. Dalam kondisi sulit mencari pekerjaan, tawaran bekerja di perusahaan besar seperti PT Pindo Deli 2 menjadi harapan besar. Ia kemudian diarahkan untuk mengirim lamaran secara daring melalui WhatsApp.

Tak lama berselang, Iin mendapat panggilan tes pada 20 Januari di sebuah yayasan bernama Yayasan Sehati Sejahtera yang berlokasi di Cikarang, Bekasi. Di tempat itu, Iin mengikuti tes dan wawancara. Namun kejanggalan mulai muncul ketika usai wawancara, ia justru diminta membayar uang sebesar Rp4,5 juta.


“Katanya saya diinterview oleh ‘orang dalam’ PT Pindo Deli dan langsung diterima kontrak satu tahun,” ujar Iin, Sabtu (31/1/2026).

Uang tersebut disebut sebagai “biaya administrasi”. Iin sempat ragu, namun setelah orang tuanya berbicara langsung dengan seorang perempuan bernama Bu Manda, yang mengaku dari pihak yayasan, akhirnya Iin menyerahkan Rp4 juta secara tunai, disertai kwitansi.

Masalah tak berhenti di situ.

Keesokan harinya, 21 Januari, Iin kembali dipanggil untuk medical check up di RS Medirossa Cikarang. Anehnya, seluruh biaya medical justru dibebankan kepada Iin dengan janji akan diganti oleh pihak perusahaan. Namun pada sore harinya, Bu Manda kembali meminta Rp500 ribu melalui transfer, disertai ancaman.

“Kalau tidak transfer, katanya posisi saya akan digantikan pelamar dari Kebumen,” tutur Iin.

Tekanan demi tekanan terus berlanjut. 22 Januari, Iin kembali diminta Rp1,1 juta dengan alasan pembelian seragam dan pembuatan ID Card. Merasa janggal namun sudah terlanjur berharap, Iin kembali menuruti. Pada hari yang sama, ia kembali dimintai Rp700 ribu dengan dalih “uang orang dalam”.

Puncaknya terjadi 23 Januari, saat Iin diminta lagi Rp500 ribu untuk pembuatan rekening dan BPJS. Ketika sempat menolak, Iin justru mendapat teror telepon dan ancaman diskualifikasi.

“Kerja belum mulai, tapi uang terus diminta. Saat saya minta hasil medical, mereka bilang itu rahasia PT,” kata Iin.

Hingga 28 Januari, permintaan uang terus berlanjut. Saat Iin mulai menolak, komunikasi terputus. Nomornya diblokir, dan ia bahkan diancam bahwa uang yang telah disetor tidak akan dikembalikan.

Kecurigaan Iin semakin kuat setelah ia memastikan langsung ke lingkungan PT Pindo Deli. Dari keterangan tetangga, karyawan, hingga satpam PT, dipastikan tidak ada pegawai bernama Bu Manda maupun Bu Farida di PT Pindo Deli 1 maupun 2.

“Seragam itu gratis, tes juga langsung di PT, bukan di yayasan,” ujar salah satu karyawan yang ditemui Iin.

Ironisnya, saat Iin mendatangi lokasi yayasan bersama pihak terkait, tempat tersebut sudah tutup dan diduga akan pindah lokasi. Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa korban bukan hanya satu.

Iin mengaku uang yang disetorkan berasal dari pinjaman saudara dan tetangga. Ia berharap kasus ini diangkat ke publik agar tidak ada korban lain yang mengalami hal serupa.

“Saya benar-benar bingung harus bagaimana lagi. Saya mohon kasus ini di-up. Uangnya itu hasil pinjam, Pak,” tuturnya lirih.

Kasus ini menambah daftar panjang dugaan penipuan berkedok lowongan kerja yang menyasar masyarakat kecil dengan iming-iming masuk perusahaan besar. Publik mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas dan menindak tegas pihak-pihak yang diduga terlibat. (***TIM)