Editorial Cartoon

Editorial Cartoon

Pemerintah Daerah Kab. Karawang, Jawa Barat

Pemerintah Daerah Kab. Karawang, Jawa Barat
Kantor Bupati Karawang

Wednesday, October 28, 2026

Mengenang Ikrar Pemuda 1928: Nilai Moral Sumpah Pemuda bagi Generasi Masa Kini

 

Karawang Post - Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada 2026, peringatan itu genap berusia 98 tahun. Namun, Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan, apalagi sekadar hafalan sejarah. Ikrar para pemuda pada 1928 adalah teguran moral bagi generasi hari ini: persatuan harus diperjuangkan, idealisme harus dipelihara, dan cinta tanah air harus dibuktikan melalui tindakan.

Sumpah Pemuda lahir dari kesadaran bahwa perjuangan menuju kemerdekaan tidak mungkin ditempuh secara sendiri-sendiri. Para pemuda dari berbagai daerah, suku, agama, dan organisasi berani menyingkirkan perbedaan demi cita-cita yang lebih besar. Mereka mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan: Indonesia.

Keputusan itu bukan perkara sederhana. Persatuan tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari keberanian untuk saling memahami dan kesediaan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu, Sumpah Pemuda tetap relevan ketika ruang publik hari ini justru kerap dipenuhi politik identitas, ujaran kebencian, dan informasi yang sengaja memecah belah.

Nilai moral Sumpah Pemuda

Nilai pertama yang harus ditegakkan ialah cinta tanah air. Bagi pemuda 1928, Indonesia bukan sekadar wilayah tempat tinggal, melainkan rumah bersama yang harus diperjuangkan. Pada masa kini, cinta tanah air tidak cukup diucapkan dalam pidato atau unggahan media sosial. Ia harus tampak dalam perilaku: menghormati keberagaman, menjaga lingkungan, menaati aturan, menggunakan produk dalam negeri secara bijak, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Nilai berikutnya adalah persatuan. Indonesia memiliki keragaman suku, bahasa, agama, budaya, dan kondisi sosial. Keragaman itu semestinya menjadi modal kekuatan, bukan bahan bakar pertentangan. Generasi muda perlu membiasakan dialog, menghargai perbedaan pendapat, menolak diskriminasi, dan tidak mudah menjadi alat provokasi.

Di era digital, sikap kritis menjadi bagian dari tanggung jawab kebangsaan. Pemuda tidak boleh menelan mentah-mentah setiap informasi yang beredar. Kemampuan memeriksa fakta, mengenali hoaks, dan menolak ujaran kebencian bukan sekadar kecakapan teknis, melainkan bentuk nyata menjaga persatuan.

Sumpah Pemuda juga mengajarkan tanggung jawab. Para pemuda 1928 tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi berani mengambil peran dalam menentukan masa depan bangsa. Pemuda masa kini pun tidak boleh menyerahkan seluruh urusan bangsa kepada pemerintah atau kelompok tertentu. Setiap orang bertanggung jawab untuk belajar, berkarya, menjaga integritas, dan memperbaiki lingkungan di sekitarnya.

Idealisme pemuda yang perlu dipelihara

Idealisme adalah tenaga pendorong perubahan. Ia membuat seseorang berani memiliki cita-cita, memperjuangkan kebenaran, dan bertahan ketika menghadapi kesulitan. Para pemuda 1928 membuktikan bahwa keterbatasan tidak menghalangi lahirnya gagasan besar. Mereka berani membayangkan Indonesia yang bersatu dan merdeka ketika cita-cita itu belum menjadi kenyataan.

Pemuda masa kini harus menerjemahkan idealisme ke dalam semangat belajar dan keberanian berinovasi. Perubahan teknologi, perkembangan industri, dan persaingan global menuntut penguasaan ilmu pengetahuan serta keterampilan. Namun, kecerdasan tanpa kejujuran hanya akan melahirkan masalah baru. Pengetahuan harus berjalan bersama disiplin, empati, integritas, dan kepedulian sosial.

Idealisme juga berarti berani bersikap kritis tanpa kehilangan kesantunan. Pendapat harus dibangun di atas data dan pertimbangan yang matang, bukan sekadar mengikuti arus media sosial. Kritik yang bertanggung jawab memperkuat demokrasi; kebisingan tanpa dasar hanya memperkeruh keadaan.

Lebih dari itu, idealisme menuntut ketekunan. Cita-cita besar tidak lahir secara instan. Pemuda harus bersedia bekerja keras, menghargai proses, belajar dari kegagalan, dan terus memperbaiki diri. Tanpa ketekunan, idealisme mudah berubah menjadi slogan kosong.

Peran pendidikan dalam meneruskan semangat Sumpah Pemuda

Pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai moral Sumpah Pemuda. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, melainkan ruang untuk membentuk karakter dan belajar hidup bersama. Pembelajaran sejarah, pendidikan Pancasila, kegiatan kebudayaan, organisasi siswa, dan aktivitas sosial harus diarahkan agar peserta didik memahami persatuan sebagai pengalaman, bukan sekadar materi ujian.

Guru memegang posisi penting sebagai teladan. Kejujuran, keadilan, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap setiap peserta didik merupakan pendidikan karakter yang paling mudah dipahami karena hadir dalam keseharian. Semangat kebangsaan tidak akan tumbuh melalui hafalan semata jika lingkungan pendidikan justru mempertontonkan ketidakadilan dan intoleransi.

Di Karawang, pendidikan harus menjawab tantangan daerah sebagai wilayah industri sekaligus pertanian. Pemuda perlu dibekali literasi, numerasi, kecakapan digital, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan etos kerja. Namun, semua itu harus ditopang integritas serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan. Kemajuan ekonomi tidak boleh dibayar dengan hilangnya karakter dan tanggung jawab sosial.

Orang tua dan masyarakat memikul tanggung jawab yang sama. Pembentukan karakter tidak berhenti di sekolah. Keteladanan dalam keluarga, budaya gotong royong, kepedulian terhadap sesama, dan kebiasaan menghargai perbedaan akan menentukan apakah nilai Sumpah Pemuda benar-benar hidup atau hanya diperingati setiap tahun.

Menjadikan Sumpah Pemuda sebagai tindakan nyata

Mengenang Sumpah Pemuda tidak cukup dengan upacara dan pembacaan ikrar. Nilainya harus hadir dalam tindakan: belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga persahabatan di tengah perbedaan, menggunakan media sosial secara bertanggung jawab, menolak ujaran kebencian, serta terlibat dalam kegiatan sosial dan lingkungan.

Pemuda juga harus berani menciptakan karya. Inovasi teknologi, kewirausahaan, gerakan literasi, pelestarian budaya, dan aksi kepedulian sosial merupakan bentuk pengabdian yang relevan dengan zaman. Tidak semua kontribusi harus besar. Yang terpenting ialah ketulusan, konsistensi, dan dampak nyata.

Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa masa depan bangsa tidak akan ditentukan oleh mereka yang hanya menjadi penonton. Indonesia membutuhkan pemuda yang mampu menyatukan idealisme dengan kerja, keberanian dengan tanggung jawab, serta kecerdasan dengan integritas. Pemuda harus menjadi pelaku perubahan dan pencipta solusi, bukan sekadar pengomentar keadaan.

Pada akhirnya, Sumpah Pemuda bukan sekadar warisan sejarah, melainkan amanat moral. Ikrar para pemuda pada 1928 mengajarkan cinta tanah air, persatuan, tanggung jawab, keberanian, ketekunan, dan pengabdian. Nilai-nilai itu tetap relevan meski tantangan zaman berubah. Tujuannya tetap sama: membangun Indonesia yang maju, adil, dan bermartabat.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. Mari mengenang perjuangan para pemuda 1928 bukan dengan seremoni belaka, melainkan dengan meneruskan idealisme mereka melalui ilmu, karya, integritas, dan kepedulian bagi Indonesia.

Tuesday, October 27, 2026

Sumpah Pemuda dan Peran Pendidikan dalam Membangun Generasi Muda Karawang

Karawang Post - Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada 2026 ini, peringatan tersebut memasuki usia ke-98 tahun. 

Momentum bersejarah ini bukan sekadar mengenang ikrar para pemuda pada 1928, melainkan juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen dalam membangun generasi muda yang cerdas, berkarakter, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan suku, daerah, agama, dan latar belakang bukan alasan untuk terpecah. Para pemuda kala itu mampu menyatukan tekad melalui tiga landasan penting:

Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, Indonesia. Semangat inilah yang perlu terus ditanamkan melalui dunia pendidikan, termasuk di Kabupaten Karawang.

Pendidikan Sebagai Fondasi Persatuan

Disdikbud Kabupaten Karawang memiliki peran strategis dalam menerjemahkan semangat Sumpah Pemuda ke dalam kehidupan sekolah sehari-hari. 

Pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus membentuk karakter, menanamkan rasa cinta tanah air, membangun toleransi, serta mengembangkan tanggung jawab dan kepedulian sosial.

Sekolah merupakan ruang penting bagi peserta didik untuk belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, berdiskusi secara sehat, dan menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan. 

Melalui pembelajaran sejarah, pendidikan Pancasila, kegiatan kebudayaan, organisasi siswa, dan kegiatan sosial, nilai persatuan dapat diwujudkan dalam tindakan nyata.

Guru pun memiliki posisi penting sebagai teladan. Sikap jujur, disiplin, adil, dan menghormati setiap peserta didik merupakan pendidikan karakter yang dapat dirasakan langsung oleh anak-anak. Dengan demikian, semangat kebangsaan tidak berhenti sebagai hafalan dalam buku pelajaran, tetapi tumbuh menjadi perilaku, budaya.

Mempersiapkan Generasi Muda Menghadapi Perubahan Zaman

Karawang merupakan daerah industri sekaligus wilayah pertanian yang memiliki potensi besar. Kemajuan daerah membutuhkan generasi muda yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan, serta memiliki etos kerja dan integritas.

Karena itu, pendidikan perlu terus mendorong kemampuan literasi, numerasi, kreativitas, pemecahan masalah, dan kecakapan digital. Di tengah derasnya arus informasi, peserta didik juga harus dibekali kemampuan membedakan fakta dan hoaks, menggunakan teknologi secara bijak, serta tidak mudah terprovokasi oleh ujaran kebencian.

Dinas Pendidikan bersama sekolah, orang tua, dan masyarakat perlu memperkuat kerja sama agar setiap anak memperoleh kesempatan belajar yang layak. 

Perhatian terhadap kualitas guru, sarana pendidikan, pemerataan akses, dan kebutuhan peserta didik harus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan sumber daya manusia Karawang yang berkualitas.

Kemajuan pendidikan tidak semata-mata diukur dari nilai ujian atau banyaknya siswa yang meraih prestasi. 

Ukuran lainnya adalah kemampuan lulusan untuk hidup mandiri, menghargai sesama, bekerja secara bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Dari Ruang Kelas untuk Masa Depan Generasi Muda

Semangat Sumpah Pemuda tahun ini, dengan tema nasional “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, memberikan pesan pemerintah bahwa generasi muda perlu memiliki kecintaan kepada bangsa, ketangguhan menghadapi kesulitan, dan kepedulian terhadap sesama.

Nilai tersebut relevan ditanamkan sejak pendidikan dasar hingga menengah. Anak-anak perlu dibiasakan membantu teman yang mengalami kesulitan, menghormati guru dan orang tua, menjaga lingkungan sekolah, serta menghargai teman tanpa membedakan kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga.

Di sisi lain, orang tua tidak dapat menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan hanya kepada sekolah. Pembentukan karakter membutuhkan kesinambungan antara pendidikan di rumah, sekolah, dan masyarakat. 

Ketiganya harus berjalan bersama agar anak tumbuh dengan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan akhlak yang baik.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 hendaknya menjadi momentum bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Karawang untuk memperkuat komitmen tersebut. 

Tantangan zaman boleh berubah, tetapi kebutuhan akan generasi yang berilmu, berintegritas, dan mampu menjaga persatuan tetap menjadi prioritas.

Sumpah Pemuda bukan hanya warisan sejarah yang diperingati setiap tahun, tapi merupakan tanggung jawab yang harus diteruskan melalui pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan. 

Dari ruang kelas, semangat persatuan dapat tumbuh menjadi pengetahuan, keterampilan, karakter, dan karya nyata bagi masyarakat.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Karawang mengucapkan: Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. Mari kita bersama membangun generasi muda Karawang yang patriotik, gigih, berempati, dan siap berkontribusi bagi Indonesia. (***TIM)

Friday, October 23, 2026

Warga Menyambut Gembira, Bapenda Karawang Permudah Pelayanan Pajak Daerah Melalui Kios K

Karawang Post – Ayo manfaatkan Kios K untuk bayar pajak lebih mudah. Masyarakat Kabupaten Karawang, kini saatnya memanfaatkan kemudahan layanan perpajakan melalui Kios K yang disediakan oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Karawang. 

Tak perlu ragu untuk mencoba layanan mandiri ini sebagai salah satu alternatif untuk mengecek informasi dan melakukan pembayaran pajak sesuai kebutuhan.

Melalui Kios K, masyarakat dapat mengecek dan membayar tagihan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) serta memperoleh layanan terkait Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dengan lebih praktis. Manfaatkan Kios K yang tersedia di lokasi-lokasi pelayanan agar urusan perpajakan menjadi lebih mudah dan efisien.

Menjadi wajib pajak yang taat dan cerdas adalah dengan membayar pajak tepat waktu, manfaatkan kemudahan teknologi, dan ikut berkontribusi dalam pembangunan Kabupaten Karawang. 

Pajak yang kita bayarkan merupakan bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan daerah yang semakin maju, mandiri, dan sejahtera.

Bayar Pajak Daerah Makin Mudah Pakai Kios K

Bapenda Karawang terus mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik melalui pemanfaatan teknologi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menghadirkan Kios K, layanan mandiri yang memudahkan masyarakat memperoleh informasi dan melakukan transaksi perpajakan daerah secara lebih praktis.

Kehadiran Kios K menjadi bagian dari upaya mewujudkan pelayanan yang cepat, mudah, dan semakin dekat dengan masyarakat. Melalui fasilitas ini, wajib pajak dapat melakukan pengecekan dan pembayaran tagihan PBB-P2 serta PKB lebih mudah.

Selain itu, Kios K juga menyediakan layanan proteksi kendaraan bermotor yang sudah tidak dikuasai oleh pemiliknya. Fasilitas ini diharapkan membantu masyarakat memperoleh informasi dan mengurus kebutuhan terkait perpajakan kendaraan secara aman dan nyaman.

Berdasarkan informasi Bapenda Kabupaten Karawang, Kios K tersedia di sejumlah lokasi, yaitu Kantor Bapenda Kabupaten Karawang, Kantor Kecamatan Klari, Kantor Kecamatan Cikampek, Resinda Park Mall, RSUD Jatisari, dan RSUD Rengasdengklok.

Penempatan layanan di berbagai lokasi tersebut menjadi langkah strategis untuk memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan pajak. Dengan demikian, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan tempat untuk memanfaatkan fasilitas yang tersedia, sesuai kebutuhan dan kemudahan akses masing-masing.


Digitalisasi Pelayanan, Membangun Kesadaran Pajak

Lebih dari sekadar menyediakan mesin layanan mandiri, kehadiran Kios K mencerminkan pentingnya transformasi digital dalam tata kelola pemerintahan daerah.

Pelayanan publik yang baik bukan hanya diukur dari banyaknya fasilitas yang tersedia, melainkan juga dari kemudahan masyarakat mengakses layanan, kejelasan informasi, serta kepastian prosedur perpajakan secara tepat waktu.

Pajak daerah merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berperan dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan penyelenggaraan pelayanan publik.

Karena itu, peningkatan penerimaan pajak perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan dan kepercayaan masyarakat.

Masyarakat akan lebih mudah memahami pentingnya membayar pajak apabila pemerintah mampu memberikan pelayanan yang transparan, responsif, dan dapat dijangkau.

Dengan demikian, kepatuhan pajak tidak hanya tumbuh karena kewajiban, tetapi juga karena adanya kesadaran dan kepercayaan terhadap pengelolaan pemerintahan.

Saat di lapangan, wartawan Karawang Post bertemu seorang Ibu Rumah Tangga, Sri Wahyuni (26) warga Desa Sukaharja, Telukjambe Timur, Karawang, ia mengaku merasa aman, nyaman dan lancar membayar pajak dengan Kios K.

“Sebagai warga saya menyambut gembira. Tidak mengira pelayanan untuk masyarakat dari Pemda Karawang sekarang sudah sedemikian maju dan modern, tentu saya merasa mudah, cepat, aman dan nyaman membayar pajak pakai Kios K,” kata Sri Wahyuni.   

Semangat “Bayar Pajak Daerah Makin Mudah Pakai Kios K” menegaskan bahwa pelayanan yang berkualitas merupakan bagian penting dari upaya membangun daerah. 

Ketika pemerintah memberikan kemudahan dan masyarakat menjalankan kewajibannya dengan kesadaran, keduanya dapat berjalan bersama untuk mendukung pembangunan Kabupaten Karawang yang lebih maju dan sejahtera. (***TIM

Wednesday, October 21, 2026

Hari Santri 2026: Merawat Tradisi, Menguasai Ilmu, Membangun Negeri

Karawang Post – Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini merupakan pengingat bahwa pesantren dan kaum santri memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa, memperjuangkan kemerdekaan, serta menanamkan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Secara resmi, Hari Santri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Keputusan tersebut ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

Dalam pertimbangannya, pemerintah mengakui besarnya peran ulama dan santri pondok pesantren dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mengisi kemerdekaan melalui pembangunan bangsa.

Resolusi Jihad dan Sejarah Perjuangan Santri

Pemilihan tanggal 22 Oktober memiliki landasan sejarah yang kuat. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama mengeluarkan seruan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Seruan tersebut muncul ketika kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Para ulama menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air.

Semangat tersebut turut menggerakkan perjuangan rakyat, termasuk kalangan santri, dalam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan. Perlawanan rakyat di Surabaya pada November 1945 menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

Sejarah ini menunjukkan bahwa nasionalisme dan keagamaan tidak harus dipertentangkan. Bagi para ulama dan santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, kecintaan kepada tanah air berjalan seiring dengan keyakinan dan tanggung jawab moral.

Karena itulah, Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus meneladani keberanian, pengorbanan, dan keteguhan mereka dalam membela bangsa.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Karawang mengucapkan: Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. (***TIM)

Hari Santri 2026: Merawat Tradisi, Menguasai Ilmu, Membangun Negeri


Karawang Post –
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini merupakan pengingat bahwa pesantren dan kaum santri memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa, memperjuangkan kemerdekaan, serta menanamkan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Secara resmi, Hari Santri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Keputusan tersebut ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

Dalam pertimbangannya, pemerintah mengakui besarnya peran ulama dan santri pondok pesantren dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mengisi kemerdekaan melalui pembangunan bangsa.

Resolusi Jihad dan Sejarah Perjuangan Santri

Pemilihan tanggal 22 Oktober memiliki landasan sejarah yang kuat. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama mengeluarkan seruan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Seruan tersebut muncul ketika kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Para ulama menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air.

Semangat tersebut turut menggerakkan perjuangan rakyat, termasuk kalangan santri, dalam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan. Perlawanan rakyat di Surabaya pada November 1945 menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

Sejarah ini menunjukkan bahwa nasionalisme dan keagamaan tidak harus dipertentangkan. Bagi para ulama dan santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, kecintaan kepada tanah air berjalan seiring dengan keyakinan dan tanggung jawab moral.

Karena itulah, Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus meneladani keberanian, pengorbanan, dan keteguhan mereka dalam membela bangsa.

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Karawang mengucapkan: Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. (***TIM)

Hari Santri 2026: Merawat Tradisi, Menguasai Ilmu, Membangun Negeri

Karawang Post – Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini merupakan pengingat bahwa pesantren dan kaum santri memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa, memperjuangkan kemerdekaan, serta menanamkan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Secara resmi, Hari Santri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Keputusan tersebut ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

Dalam pertimbangannya, pemerintah mengakui besarnya peran ulama dan santri pondok pesantren dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mengisi kemerdekaan melalui pembangunan bangsa.

Resolusi Jihad dan Sejarah Perjuangan Santri

Pemilihan tanggal 22 Oktober memiliki landasan sejarah yang kuat. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama mengeluarkan seruan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Seruan tersebut muncul ketika kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Para ulama menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air.

Semangat tersebut turut menggerakkan perjuangan rakyat, termasuk kalangan santri, dalam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan. Perlawanan rakyat di Surabaya pada November 1945 menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

Sejarah ini menunjukkan bahwa nasionalisme dan keagamaan tidak harus dipertentangkan. Bagi para ulama dan santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, kecintaan kepada tanah air berjalan seiring dengan keyakinan dan tanggung jawab moral.

Karena itulah, Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus meneladani keberanian, pengorbanan, dan keteguhan mereka dalam membela bangsa.

Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karawang mengucapkan: Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. (***TIM)

Hari Santri 2026: Merawat Tradisi, Menguasai Ilmu, Membangun Negeri


Karawang Post –
Setiap tanggal 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

Peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini merupakan pengingat bahwa pesantren dan kaum santri memiliki peran penting dalam membentuk karakter bangsa, memperjuangkan kemerdekaan, serta menanamkan nilai-nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Secara resmi, Hari Santri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Keputusan tersebut ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2015.

Dalam pertimbangannya, pemerintah mengakui besarnya peran ulama dan santri pondok pesantren dalam perjuangan merebut kemerdekaan, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta mengisi kemerdekaan melalui pembangunan bangsa.

Resolusi Jihad dan Sejarah Perjuangan Santri

Pemilihan tanggal 22 Oktober memiliki landasan sejarah yang kuat. Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari bersama para ulama mengeluarkan seruan yang dikenal sebagai Resolusi Jihad.

Seruan tersebut muncul ketika kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 menghadapi ancaman kembalinya kekuasaan kolonial. Para ulama menyerukan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air.

Semangat tersebut turut menggerakkan perjuangan rakyat, termasuk kalangan santri, dalam menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan. Perlawanan rakyat di Surabaya pada November 1945 menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan bangsa.

Sejarah ini menunjukkan bahwa nasionalisme dan keagamaan tidak harus dipertentangkan. Bagi para ulama dan santri yang berjuang mempertahankan kemerdekaan, kecintaan kepada tanah air berjalan seiring dengan keyakinan dan tanggung jawab moral.

Karena itulah, Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu sekaligus meneladani keberanian, pengorbanan, dan keteguhan mereka dalam membela bangsa.

Dinas Perhubungan (DISHUB) Kabupaten Karawang mengucapkan: Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. (***TIM)