Banyak penipu lowongan kerja di kota industri Karawang yang dikenal sebagai jantung kawasan
industri terbesar di Indonesia. Ribuan pabrik berdiri, menyerap tenaga kerja
dari berbagai daerah. Namun di balik gemerlap peluang itu, tumbuh pula praktik
gelap: Kejahatan penipuan berkedok lowongan kerja.
Karawang
Post — Harapan para pencari kerja sering dimanfaatkan oleh oknum
tak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan pribadi. Tidak tanggung-tanggung,
nama besar PT. Pindo Deli pun dicatut.
Modus lainnya pun beragam.
Ada yang mengaku sebagai calo perusahaan, menawarkan “jalur khusus” dengan
syarat membayar sejumlah uang. Ada pula yang membuat iklan lowongan palsu di
media sosial, meminta biaya administrasi, tes kesehatan, hingga uang seragam.
Setelah uang ditransfer, pelaku menghilang tanpa jejak, sementara korban hanya
menyisakan kekecewaan dan utang.
Fenomena ini sangat
menyakitkan karena menyasar kelompok rentan: lulusan baru, buruh yang terkena
PHK, dan warga desa yang bermimpi memperbaiki nasib di kota industri. Mereka
datang ke Karawang dengan bekal terbatas, tetapi harus berhadapan dengan
praktik kejam yang merampas harapan sebelum sempat bekerja.
Pemerintah daerah, dalam hal ini Disnakertrans. Perusahaan, dan aparat penegak hukum tidak boleh tinggal diam. Sosialisasi
mekanisme rekrutmen resmi harus diperkuat, layanan pengaduan dipermudah, dan
penindakan terhadap calo ilegal dilakukan tegas.
Perusahaan juga perlu
membuka informasi penerimaan secara transparan agar ruang bagi penipu semakin
sempit.
Bagi masyarakat, kewaspadaan
menjadi benteng utama. Lowongan kerja resmi tidak pernah memungut biaya. Setiap
permintaan uang patut dicurigai. Karawang seharusnya menjadi kota harapan bagi
pekerja, bukan ladang subur bagi penipu yang menangguk untung dari air mata
para pencari nafkah.
Seperti nasib sial yang dialami Iin,
berharap mendapat pekerjaan justru berubah menjadi mimpi buruk, warga Desa
Kertaraharja, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang ini mengaku menjadi korban
dugaan penipuan lowongan kerja yang mengatasnamakan PT Pindo Deli 2 Karawang,
dengan modus berlapis dan tekanan psikologis yang membuat korban terus-menerus
mengirim uang.
Peristiwa bermula saat Iin menemukan
informasi lowongan kerja melalui media sosial. Dalam kondisi sulit mencari
pekerjaan, tawaran bekerja di perusahaan besar seperti PT Pindo Deli 2 menjadi
harapan besar. Ia kemudian diarahkan untuk mengirim lamaran secara daring
melalui WhatsApp.
Tak lama berselang, Iin mendapat
panggilan tes pada 20 Januari di sebuah yayasan bernama Yayasan Sehati
Sejahtera yang berlokasi di Cikarang, Bekasi. Di tempat itu, Iin mengikuti tes
dan wawancara. Namun kejanggalan mulai muncul ketika usai wawancara, ia justru
diminta membayar uang sebesar Rp4,5 juta.
“Katanya saya diinterview oleh
‘orang dalam’ PT Pindo Deli dan langsung diterima kontrak satu tahun,” ujar
Iin, Sabtu (31/1/2026).
Uang tersebut disebut sebagai “biaya
administrasi”. Iin sempat ragu, namun setelah orang tuanya berbicara langsung
dengan seorang perempuan bernama Bu Manda, yang mengaku dari pihak yayasan,
akhirnya Iin menyerahkan Rp4 juta secara tunai, disertai kwitansi.
Masalah tak berhenti di situ.
Keesokan harinya, 21 Januari, Iin
kembali dipanggil untuk medical check up di RS Medirossa Cikarang. Anehnya,
seluruh biaya medical justru dibebankan kepada Iin dengan janji akan diganti
oleh pihak perusahaan. Namun pada sore harinya, Bu Manda kembali meminta Rp500
ribu melalui transfer, disertai ancaman.
“Kalau tidak transfer, katanya
posisi saya akan digantikan pelamar dari Kebumen,” tutur Iin.
Tekanan demi tekanan terus
berlanjut. 22 Januari, Iin kembali diminta Rp1,1 juta dengan alasan pembelian
seragam dan pembuatan ID Card. Merasa janggal namun sudah terlanjur berharap,
Iin kembali menuruti. Pada hari yang sama, ia kembali dimintai Rp700 ribu
dengan dalih “uang orang dalam”.
Puncaknya terjadi 23 Januari, saat
Iin diminta lagi Rp500 ribu untuk pembuatan rekening dan BPJS. Ketika sempat
menolak, Iin justru mendapat teror telepon dan ancaman diskualifikasi.
“Kerja belum mulai, tapi uang terus
diminta. Saat saya minta hasil medical, mereka bilang itu rahasia PT,” kata
Iin.
Hingga 28 Januari, permintaan uang
terus berlanjut. Saat Iin mulai menolak, komunikasi terputus. Nomornya
diblokir, dan ia bahkan diancam bahwa uang yang telah disetor tidak akan
dikembalikan.
Kecurigaan Iin semakin kuat setelah
ia memastikan langsung ke lingkungan PT Pindo Deli. Dari keterangan tetangga,
karyawan, hingga satpam PT, dipastikan tidak ada pegawai bernama Bu Manda
maupun Bu Farida di PT Pindo Deli 1 maupun 2.
“Seragam itu gratis, tes juga
langsung di PT, bukan di yayasan,” ujar salah satu karyawan yang ditemui Iin.
Ironisnya, saat Iin mendatangi
lokasi yayasan bersama pihak terkait, tempat tersebut sudah tutup dan diduga
akan pindah lokasi. Hal ini memunculkan dugaan kuat bahwa korban bukan hanya
satu.
Iin mengaku uang yang disetorkan
berasal dari pinjaman saudara dan tetangga. Ia berharap kasus ini diangkat ke
publik agar tidak ada korban lain yang mengalami hal serupa.
“Saya benar-benar bingung harus
bagaimana lagi. Saya mohon kasus ini di-up. Uangnya itu hasil pinjam, Pak,”
tuturnya lirih.
Kasus ini
menambah daftar panjang dugaan penipuan berkedok lowongan kerja yang menyasar
masyarakat kecil dengan iming-iming masuk perusahaan besar. Publik mendesak
aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas dan menindak tegas
pihak-pihak yang diduga terlibat. (***TIM)