Setiap tanggal 17 Agustus seluruh bangsa Indonesia merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, hal itu adalah gambaran besar yang nyata, bahwa rakyat Indonesia sadar telah merdeka, sadar telah lepas dari genggaman penjajah bangsa asing, dan sejarah mencatat para pahlawan, nenek moyang kita berhasil mengusir kolonialisme penindas dari tanah air tercinta ini.
Tentu saja para pahlawan dulu tidak mudah mempertahankan tanah air, untuk tidak dikuasai penjajah bangsa lain, para pejuang kemerdekaan mengorbankan darah dan air mata, penderitaan yang tiada tara, demi untuk kemerdekaan Bumi Pertiwi yang kekayaannya disebut “Gemah Ripah Loh Jinawi”.
Douwes Dekker seorang berkebangsaan Belanda menulis, bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya raya, rakyatnya tidur di atas harta karun.
Eduard Douwes Dekker atau Multatuli adalah penulis buku monumental: Max Havelaar (1860). Inti Kritiknya, ia membongkar bagaimana sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) memeras kekayaan bumi Nusantara (kopi, tebu, rempah-rempah) demi memakmurkan kerajaan Belanda, sementara rakyat pribumi kelaparan dan menderita.
Dalam mahakaryanya itu, Douwes Dekker fokus pada kekayaan alam saat itu adalah rempah-rempah, kopi, dan gula. Gagasan yang ditulisnya dalam buku tersebut digambarkan lewat kalimat puitis yang sangat terkenal:
"Insulinde yang indah, yang melingkar di khatulistiwa bagaikan sabuk zamrud..." (De indische archipel yang melingkar bagai seuntai zamrud). Indonesia adalah untaian Permata Zamrud di Khatulistiwa.
Melalui buku itu, ia mengkritik bahwa tanah Jawa sangat subur dan menghasilkan kekayaan luar biasa bagi Kerajaan Belanda, namun rakyat pribuminya kelaparan dan hidup menderita di atas tanah subur mereka sendiri akibat sistem Tanam Paksa penjajah Belanda.
Kemudian Soekarno yang mempopulerkan narasi "Rakyat Indonesia Tidur di Atas Tumpukan Emas, dan Harta Karun."
Istilah rakyat "tidur di atas emas" atau "berenang di atas minyak" baru marak digunakan pada abad ke-20 dan ke-21 seiring ditemukannya cadangan tambang modern (seperti Freeport, ladang minyak, nikel, bauksit, dan gas bumi).
Soekarno tokoh yang sering mempopulerkan konsep serupa, dalam pidato-pidatonya, Bung Karno itu sering menyebut Indonesia sebagai negara Gemah Ripah Loh Jinawi (kaya raya) namun rakyatnya miskin akibat imperialisme.
Soekarno juga sering memakai peribahasa kuno "Ayam Mati di Lumbung Padi" untuk menggambarkan rakyat yang kelaparan di tengah kelimpahan pangan dan kekayaan alam negerinya sendiri.
Kini sudah 81 tahun Indonesia Merdeka, 17 Agustus 2026. Kembali seluruh rakyat Indonesia merayakan Dirgahayu HUT RI yang gegap gempita.
Pastinya setelah Indonesia merdeka, besar harapan masyarakat bisa merasakan kemerdekaan dari segala bentuk apapun. Terutama kemerdekaan ekonomi, harga sandang, pangan dan papan yang murah terjangkau.
Namun yang terjadi malah sebaliknya, tidak sedikit dalam setiap tahunnya saat rakyat merayakan perayaan hari kemerdekaan, rakyat merasa tidak merdeka atas dirinya sendiri, benturan ekonomi yang sangat sulit menghimpit mencekik leher rakyat kecil yang hanya bisa terdiam, nelangsa sengsara di hadapan harga harga kebutuhan pokok yang melambung tinggi, dan jarang sekali terlihat oleh sudut pandang pemerintah yang hanya melihat pertumbuhan data statistik palsu.
Rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi dalam suatu Negara, bahwa kekayaan bawah tanah dikelola di bawah amanat Pasal 33 UUD 1945, di mana bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat.
Ironisnya hal itu menjadi kutukan, dalam dunia ekonomi modern, terdapat istilah Resource Curse (Kutukan Sumber Daya Alam). Fenomena ini terjadi jika suatu negara memiliki alam yang melimpah, namun gagal menyejahterakan rakyatnya karena salah kelola atau korupsi.
Kritik Douwes Dekker di masa lalu menjadi nyata dan tetap relevan sebagai pengingat.
Presiden Soekarno pernah mengucapkan kalimat legendaris tersebut. Kalimat ini disampaikan oleh Bung Karno secara lisan dalam Pidato Hari Pahlawan pada tanggal 10 November 1961.
"Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri."
Bung Karno menyampaikan pidato itu pada tahun 1961, Indonesia sudah merdeka selama 16 tahun. Namun, situasi politik dalam negeri saat itu sedang mengalami gejolak besar.
Makna mendalam di balik ucapan Bung Karno. Kutipan itu seperti sengaja diwariskan kepada generasi penerus sebagai pengingat akan bahaya dari dalam tubuh bangsa sendiri, korupsi.
Banyak rakyat akan merasakan negara ini belum merdeka, ketika keadilan sosial belum terlaksana, tenyata negeri “Zamrud Khatulistiwa” dan “Gemah Ripah Loh Jinawi” yang digambarkan Douwes Dekker dan Soekarno itu jadi kutukan.
Negeri “Tempat lahir Beta” yang menjadi satu-satunya "Tempat Akhir Menutup Mata” ini telah terkutuk menjadi tempat aman bersemayam para koruptor di bawah bayang-bayang tangisan dan jeritan lapar rakyat kecil yang di selimuti kata-kata teriakan Merdeka..!! Merdeka untuk siapakah itu? Merdeka hanya untuk koruptor dan orang orang yang berkuasa.