Karawang Post – Memasuki puncak musim kemarau, sekitar 75 hektare sawah di Desa Pulomulya, Kecamatan Lemahabang, Karawang, Jawa Barat, mengalami kekeringan dan terancam gagal tanam.
Kondisi tersebut dikeluhkan para petani karena lahan pertanian mereka jauh dari sumber air irigasi. Akibatnya, pasokan air ke areal persawahan minim saat musim tanam tiba.
Kepala UPTD Pertanian Lemahabang, Dedi, mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan Ketua KTNA Kabupaten Karawang, H. Dadan, yang merupakan warga Desa Pulomulya. Persoalan tersebut juga telah disampaikan kepada Pengamat Pengairan Kecamatan Lemahabang.
Menurutnya, akan digelar pertemuan bersama para petani untuk membahas kendala pengairan sekaligus mencari solusi.
“Kebetulan belum tanam, baru sebar. Karena saluran airnya tidak ada. Saat ada pompa pun tidak bisa digunakan,” ujar Dedi, Jumat (18/9/2026).
Ia menjelaskan, salah satu kendala utama adalah jarak sumber air yang cukup jauh. Kondisi semakin sulit karena memasuki puncak kemarau, sehingga debit air yang mengalir menuju petak sawah berkurang.
“Sebenarnya sudah ada bantuan pompa air. Tapi karena saluran airnya kurang, pompa tidak bisa digunakan,” kata Dedi.
Ia menyebut pembangunan sumur bor yang dilengkapi pompa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Usulan bantuan irigasi perpompaan, termasuk paket pembangunan sumur bor, telah diajukan kepada dinas terkait.
“Ya, mudah-mudahan ke depannya ada program untuk bisa dibuatkan sumur bor,” ujarnya.
Kendala pengairan tersebut diperkirakan berdampak terhadap sekitar 75 hektare lahan pertanian di wilayah Desa Pulomulya dan sekitarnya. (***TIM)
